Showing posts with label Budidaya. Show all posts
Showing posts with label Budidaya. Show all posts

Saturday, 30 June 2018

PERSIAPAN BUDIDAYA CACING TANAH (Bagian 3)

Pengadaan Dan Memilih Bibit Cacing Tanah
Pemilihan bibit cacing yang akan dibudidayakan harus disesuaikan dengan pelanggan atau konsumen yang kita tujukan. Untuk masalah bibit cacing tanah ini kita bisa memperolehnya dari pembudidaya cacing tanah yang sudah berhasil atau dari Asosiasi Kultur Vermi Indonesia (AKVI) dan Pusat Inkubator Bisnis Ikopin (PIBI). Dalam pemilihan bibit cacing tanah yang baik adalah cacing tanah pada kondisi stadium dewasa, yaitu berumur 1,5 – 2 bulan dan memiliki klitelium (gelang/cincin) sebagai tanda siap melakukan perkawinan (kopulasi). Bibit cacing tanah dewasa atau disebut cacing induk akan cepat berproduksi atau bertelur dan menghasilkan anak dalam waktu satu bulan atau lebih.
Setelah pemilihan bibit atau calon induk cacing tanah sudah didapatkan segera disebar dalam wadah pemeliharaan yang telah diisi media. Perbandingan jumlah cacing dengan volume media yaitu 4 kg : 1 kg. Ketebalan media dipertahankan setebal 15 cm – 25 cm, agar penanganannya relatif mudah. Tata cara penebaran bibit atau induk cacing tanah adalah sebagai berikut :
  1. Letakkan beberapa bibit cacing tanah pada media dalam wadah, amati perilakunya. Jika cacing tanah tersebut masuk ke dalam media, maka segera sebarkan bibit cacing tanah yang lain.
  2. Amati perilaku cacing tanah tersebut setiap 2 jam sekali selama 12 jam, jika tidak ada cacing yang keluar dari media atau kabur, maka media tersebut telah cocok sebagai tempat hidupnya.
  3. Perilaku cacing tanah yang berkeliaran di atas media atau kabur, menunjukkan ketidakcocokan antara cacing tanah dengan media tersebut. perbaikannya adalah dengan menyiramkan air secukupnya pada media tersebut, lalu diperas sampai air perasannya tampak bening. Media yang telah diperbaiki dapat kembali digunakan untuk budidaya. Media yang baru juga dapat digunakan untuk mengganti media yang tidak cocok tadi.


Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan pada produksi cacing tanah yang mencakup perawatan media, pemberian pakan, pengendalian hama, dan penggantian media (tempat hidup cacing tanah). Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan yang merupakan rangkaian kegiatan pemeliharaan pada budidaya cacing tanah:

a. Perawatan media
Perawatan media penting dilakukan untuk menjaga kondisi media agar selalu cocok untuk cacing tanah tumbuh dan berkembang. Perawatan dilakukan dengan cara mengaduk media secara rutin pada waktu tertentu, khususnya pada saat media tampak kering atau terlalu basah. Pengadukan bertujuan untuk menjaga sirkulasi udara dalam media agar tetap terjaga. Media yang kering harus segera dibasahkan dengan cara disemprot, sedangkan media yang terlalu basah harus disegera ditambah media baru yang kering.

b. Pemberian pakan
Selama 24 jam, kebutuhan pakan cacing tanah sama dengan bobot tubuhnya. Pemberian pakan sangat penting untuk laju reproduksi dan ukuran tubuh cacing tanah. Pada perencanaan budidaya ini, pakan yang digunakan adalah 100% bahan organic seperti ampas tahu dan sayur-sayuran yang sudah membusuk. Metode pemberian pakan dapat dilakukan sebagai berikut :
  1. Pakan ditebarkan tipis pada permukaan media, kemudian diaduk sampai merata, dan tebarkan tipis merata kembali tanpa diaduk. Jumlah pakan pada hari pertama dan kedua yaitu sebanyak 2 kg untuk 1 kg cacing tanah.
  2. Hari ketiga dapat digunakan pakan tambahan yang kaya protein, seperti dedak.
  3. Hari-hari berikutnya dilakukan penggantian pakan setiap 3 hari sekali sampai hari ke 15. Pada hari ke 16, ulangi pemberian pakan seperti hari pertama. Metode pemberian pakan seperti ini harus dipertahankan dengan tujuan agar pergantian media dapat berjalan secara teratur selang 16 hari, agar aerasinya baik.


c. Pengendalian hama
Hama yang umumnya menyerang cacing tanah merupakan hama pemangsa dan pesaing dalam konsumsi pakan. Hama yang sering menyerang antara lain tikus, kaki seribu, orong-orong, katak darat, kelabang, kecoa, semut, itik, ayam, burung, ular, dan kadal. Cara untuk menanganinya yaitu dengan menangkap dan membunuh hama, atau dengan membuat dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan yang rapi dan melakukan kontrol secara kontinyu agar unit perkandangan tidak menjadi sarang hama.

d. Pergantian media
Media cacing tanah sudah harus diganti apabila semua media sudah menjadi tanah atau kascing, atau terdapat banyak telur atau kokon pada media. Pergantian media dapat dilakukan setiap 1 bulan sekali atau 2 bulan sekali. Mula-mula media diangkat dari wadah pemeliharaan, kemudian diganti dengan media yang baru. Sesudah pergantian media, wadah dapat segera disebari bibit cacing tanah kembali.

Pemanenan
Panen cacing tanah dewasa dapat dilakukan setelah berumur 3 – 4 bulan, baik sebagai produk cacing tanah bahan olahan industri pakan maupun calon induk (bibit). Panen cacing tanah berikutnya dapat dilakukan secara periodik 1 – 2 minggu sekali, tergantung permintaan atau pesanan pasar dan ketersediaan berbagai stadium cacing tanah.
Ciri-ciri cacing tanah yang sudah saatnya untuk dipanen adalah sebagai berikut :

a. Cacing telah berumur 2,5 – 3 bulan atau lebih, tergantung pada tujuan penggunaannya. Misalnya, untuk memproduksi biomas cacing dapat dipanen pada umur 2,5 – 3 bulan. Sedangkan untuk bakal bibit atau calon induk dapat dipanen setelah berumur 4 bulan.

b. Cacing telah memiliki klitelum atau gelang atau cincin yang terletak di antara anterior dan posterior. 

Panen cacing tanah dapat dilakukan 2 – 3 bulan setelah pembibitan berlangsung, baik dipanen untuk keperluan agroindustri maupun untuk calon induk. Panen cacing tanah berikutnya dapat dilakukan secara periodik setiap 1 – 2 minggu sekali. Sedangkan panen kascing dapat dilakukan setiap 1 – 2 hari sekali bersamaan dengan pemberian pakan. Usaha budidaya cacing tanah ini menghasilkan dua macam produk, yaitu cacing tanah itu sendiri dan kascing. Kedua macam produk tersebut harus dikemas dalam wadah tersendiri. Berikut cara panen cacing tanah sederhana, meliputi beberapa tahap berikut ini :

  1. Ambil wadah pemeliharaan cacing tanah dari kandang.
  2. Siapkan lembaran terpal dan ember plastik.
  3. Ambil kascing dari wadah pemeliharaan sedikit demi sedikit mulai dari permukaan atas menuju ke bagian bawah, lalu tampung dalam ember plastik.
  4. Aduk-aduk kascing atau media yang ada dalam wadah pemeliharaan, kemudian dibiarkan beberapa menit atau gunakan alat penerang (lampu) agar cacing tanah segera masuk ke dalam media (kascing) dan berkumpul di bawah.
  5. Ambil lagi kascing atau media dalam wadah pemeliharaan hingga tersisa sedikit bersama cacing tanah.
  6. Pisahkan kumpulan cacing tanah dari kascing yang tersisa, lalu tampung dalam wadah penampungan hasil panen masing-masing.

PERSIAPAN BUDIDAYA CACING TANAH (Bagian 2)

Media Hidup Cacing Tanah
Untuk lebih praktisnya residu organik, termasuk limbah tanaman dan pupuk kandang paling banyak yang dapat digunakan sebagi media hidup. Kotoran sapi dan kerbau dianggap bahan baku media hidup cacing tanah yang paling ideal. Beberapa pembudidaya lebih banyak memilih menggunakan sisa media tumbuhnya jamur (log jamur) sebagai media hidup cacing tanah. Karena disamping tidak menimbulkan bau yang tidak sedap, juga tidak diperlukan waktu untuk menfermentasi media hidup cacing tanah supaya siap langsung digunakan. Mengapa demikian, karena media tumbuhnya jamur ini dinilai tingkat keasaman sudah mencapai nol (yaitu kisaran 6.8 – 7.2). Tetapi kendalanya adalah sulitnya bahan tersebut untuk didapatkan.
Media hidup cacing tanah harus dipertahankan tingkat kelembabannya, usahakan media tetap longgar dan tidak menggumpal atau mengeras, serta tidak mengandung banyak protein atau senyawa nitrogen organik. Senyawa ini akan cepat rusak dengan pelepasan amonia, dan ini untuk sementara dapat meningkatkan pH media hidup cacing tanah yaitu bisa mencapai kisaran angka 8 atau bahkan lebih tinggi, yang tidak baik untuk cacing tanah.
Media hidup cacing tanah akan mudah memanas jika substansial belum membusuk atau jika mengandung karbohidrat dalam jumlah berlebihan. Dalam kondisi ini dapat menyebabkan cacing tanah mati. Oleh karena itu, jenis bahan harus dikomposkan atau di fermentasikan terlebih dahulu. EM4 (Effective Mikroorganism 4) dapat ditambahkan jika diperlukan dalam pengomposan atau fermentasi, karena EM4 ini mengandung 95% lactobacillus yang berfungsi menguraikan bahan organik tanpa menimbulkan panas tinggi karena mikroorganisme anaerob bekerja dengan kekuatan enzim. Melembabkan tumpukan dan mengaduk-aduk media hidup cacing tanah secara berkala berfungsi untuk meningkatkan aerasi serta bertujuan untuk menggabungkan media yang berada di tepi dan bawah ke tengah tumpukan. Setelah tahap pengomposan atau fermentasi dirasa cukup yaitu antara 2 sampai 3 minggu, media hidup cacing tanah dapat ditempatkan di wadah pemeliharaan hingga kedalaman 25 sampai 30 cm. Setelah itu cacing tanah siap ditambahkan. Untuk menjaga media hidup cacing tanah tetap lembab tetapi tidak basah atau becek, kita dan mengaduk-aduknya sekali setiap 2 atau 3 minggu untuk menjaganya tetap longgar dan aerasi. Media hidup cacing tanah harus diganti setiap 4 sampai 6 bulan dengan mengambil tumpukan media hidup cacing tanah diketinggian 10 sampai 15 cm diatas dimana sebagaian besar cacing tanah berada dan kembalikan kembali cacing tanah yang ikut terbawa ditumpukan tersebut. Kemudian pisahkan tumpukan yang sudah lama yang sudah dikonversi menjadi kascing, dan tumpukan itu dapat digunakan untuk keperluan lainnya seperti halnya di jadikan sebagai pupuk. Isi kembali wadah pemeliharaan dengan media hidup yang baru,  dan lanjutkan untuk memberikan pakan.

Makanan Untuk Cacing Tanah
Cacing tanah akan mengkonsumsi pupuk kandang, kompos, sisa makanan, kardus yang diparut atau cincang, kertas yang dijadikan bubur, bahkan hampir semua bahan organik yang membusuk atau produk limbah bisa dijadikan bahan makan pembudidaya cacing tanah. Kotoran sapi, kerbau, kelinci, atau pupuk kompos adalah makanan terbaik. Kotoran unggas tidak dianjurkan karena terlalu tinggi akan nitrogen dan mineral. Jika makanan yang rendah nutrisi, mereka harus dilengkapi dengan protein tinggi atau bahan nitrogen seperti biji-bijian. Makanan mengandung jumlah residu tinggi karbohidrat atau kayu harus dikomposkan melalui tahap fermentasi. Pakan dan suplemen dapat diterapkan langsung atau dicampur dengan 20 sampai 30 persen kotoran ternak sapi atau kerbau serbuk gergaji kayu randu atau kelapa kemudian disebarkan didalam wadah pemeliharaan cacing tanah kurang lebih dengan kedalaman 15-20 cm.
Bila menggunakan pupuk kandang sebagai bahan baku atau tempat tidur, kita selalu diharapkan mengujinya terlebih dahulu dengan penyesuaian cacing tanah. Hal yang sama berlaku untuk setiap bahan organik yang bersangkutan. Tempatkan bahan dalam sebuah wadah bersama dengan sekitar beberapa cacing dan mengamati perilaku mereka selama 12 sampai 24 jam. Jika cacing mengkonsumsi materi, tidak apa-apa, tetapi jika mereka merangkak pergi atau mati, itu berarti tidak cocok. Pengomposan bahan dapat memecahkan masalah. Terus bereksperimen dengan substansi sampai memutuskan apakah harus diberikan ke cacing tanah.
Memeberi pakan cacing harus secara teratur, sekali atau dua kali seminggu. Mengatur jadwal makan dan jumlah pakan sesuai dengan tingkat konsumsi makan terakhir dan kondisi cacing dan tempat tidur. Ketika sebagian besar pakan telah dikonsumsi, sekarang saatnya untuk memberi makan lagi. Jika pakan terlalu banyak ditambahkan, media cacing tanah bisa panas atau menjadi anaerobik (tanpa oksigen) atau terlalu asam. Menambahkan karbonat kalsium dan pencampuran pada media hidup cacing tanah dapat mengatasi masalah ini. Jika cacing tidak mengalami pertumbuhan menjadi lebih besar atau menghasilkan keturunan, menambahkan makanan yang mengandung protein tinggi sangat dibutuhkan. 
Selama 24 jam, kebutuhan pakan cacing tanah sama dengan bobot tubuhnya. Pemberian pakan sangat penting untuk laju reproduksi dan ukuran tubuh cacing tanah. Pada perencanaan bisnis ini, pemberian pakan yang digunakan bisa berupa limbah rumah tangga, limbah industri kertas, atau di tempat pembuangan akhir perkotaan. Dalam pemberian pakan pun perlu diberikan beberapa metode. Metode pemberian pakan dapat dilakukan sebagai berikut :
  1. Pakan ditebarkan tipis pada permukaan media, kemudian diaduk sampai merata, dan tebarkan tipis merata kembali tanpa diaduk. Jumlah pakan pada hari pertama dan kedua yaitu sebanyak 2 kg untuk 1 kg cacing tanah.
  2. Hari ketiga dapat digunakan pakan tambahan yang kaya protein, seperti dedak.
  3. Hari-hari berikutnya dilakukan penggantian pakan setiap 3 hari sekali sampai hari ke 15. Pada hari ke 16, ulangi pemberian pakan seperti hari pertama. Metode pemberian pakan seperti ini harus dipertahankan dengan tujuan agar pergantian media dapat berjalan secara teratur selang 16 hari, agar aerasinya baik.


PERSIAPAN BUDIDAYA CACING TANAH (Bagian 1)

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada saat membudidayakan cacing tanah, yaitu pembuatan kandang pertumbuhan cacing tanah, pembuatan wadah pemeliharaan cacing, pembuatan media, persiapan bibit, penebaran, dan pemeliharaan. Setelah kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan, maka dapat dilakukan kegiatan panen, kemudian pascapanen, dan akhirnya dipasarkan.




Kandang pelindung
Pertumbuhan cacing tanah sangat berhubungan sekali dengan sistem budidayanya, karena kesuksesan merupakan cara yang perlu diversifikasikan. Meningkatkan jumlah cacing tanah dalam media hidup dan kemudian meningkatkan nutrisi kascing guna melengkapi siklus hara. Banyak peternak sapi maupun kerbau mengembangkan penghasilan kedua dari penjualan cacing tanah dengan berbudidaya cacing tanah dekat dengan kandang sapi maupun kerbau di mana kotoran dari sapi maupun kerbau secara langsung akan diberikan kepada cacing tanah untuk dijadikan sebagai bahan pakannya sekaligus media yang baru bagi mereka.
Untuk memilih kandang pelindung guna budidaya cacing tanah sangat perlu diperhatikan, di dalam ruangan atau di luar ruangan, ini tergantung pada iklim, jenis sistem yang akan digunakan, keuangan yang tersedia, dan tujuan untuk budidaya cacing tanah. Seperti disebutkan sebelumnya, cacing tanah kebanyakan dapat mentolerir suhu antara 15° sampai 21° C. Semakin dekat dengan suhu cukup ekstrim, cacing tanah  tidak mau makan terhadap makanan yang kita sediakan dan bereproduksi. Untuk memaksimalkan produksi cacing tanah, suhu harus tetap dipertahankan antara 15° dan 21° C. Untuk mencapai tingkat ini mungkin memerlukan menyediakan semacam penampungan atau isolasi yang dapat menahan panas di musim hujan dan mendinginkan media selama dimusim kemarau.
Jika wadah pemeliharaan diletakkan di luar ruangan yang perlu diperhatikan adalah tempat yang teduh biasanya dibawah pohon atau di bawah atap gedung yang terbuka. Wadah pemeliharaan yang diletakkan dalam ruangan harus ditempatkan di mana ada drainase dan ventilasi yang memadai.
Pastikan air dan listrik yang dipasok kekadang. Karena banyaknya air yang dibutuhkan untuk menjaga kelembaban media hidup cacing tanah. Listrik hanya diperlukan sebagai penerangan dan kontrol suhu saja, seperti kipas angin untuk mendinginkan wadah pemeliharaan cacing tanah dan sistem pemanas tambahan untuk kehangatan. Lampu adalah metode yang paling efektif untuk mencegah cacing tanah pergi meninggalkan media hidup mereka.

Wadah Pemeliharaan
Wadah pemeliharaan cacing tanah dapat dibangun dari banyak bahan, termasuk blok kayu, terpal, keranjang buah, bak plastik, beton atau batu bata. Dan perlu di perhatikan jangan menggunakan bahan yang mengandung  aromatik yang dapat mengganggu pertumbuhan dan reproduksi cacing tanah.
Pembudidaya cacing tanah kadang-kadang memilih untuk menggunakan item seperti berikut sebagai wadah pemeliharaan, karena bahan tersebut dapat diperoleh secara gratis atau murah: Bak mandi bekas dari plastik, Keranjang buah bekas, blong bekas penyimpanan ikan, terpal atau kotak dari kayu bekas. Jika salah satu wadah memiliki dasar yang rapat, maka perlu dibuatkan lubangan untuk drainase. Belatung yang dibawa lalat dapat memangsa cacing tanah, jadi jika mereka banyak ditemukan di daerah media hidup atau di wadah pemeliharaan, maka akan diperlukan penutup untuk melindungi media hidup dari serangan lalat.
Lebar yang paling nyaman untuk wadah pemeliharaan cacing tanah adalah 1 meter. Untuk panjangnya, pembudidaya cacing tanah umumnya membangun wadah pemeliharaannya minimal 2 meter. Jika wadah pemeliharaan 2 meter, beberapa pembudidaya ingin memasang pembagi setiap 1,5 sampai 2 meter untuk kemudahan dalam membagi, panen, membersihkan, atau memberikan pakan. Dan pembudidaya lainnya memilih untuk tidak menggunakan pemisah dalam wadah pemeliharaannya.
Untuk kedalaman media hidup cacing tanah seharusnya berkisaran antara 25  sampai 30 cm. Jika terjadi suhu atau iklim yang terlalu dingin atau panas disekitar kandang pelindung, inilah yang menjadi pertimbangan media hidup cacing sedalam 25 sampai 30 cm, dimana suhu tanah di kedalaman itu konstan akan menjaga cacing dari suhu atau iklim dingin dan panas.
Jarak ideal antara wadah pemeliharaan adalah 1 meter. Hal ini memungkinkan ruang untuk mempersiapkan media hidup cacing tanah untuk mengganti media yang lama ke yang baru, pemberian pakan, panen, kontrol media atau membersihkan media dari hama yang menyerang.
Menentukan arah wadah pemeliharaan cacing tanah sangatlah perlu untuk diperhatikan. Jika wadah pemeliharaan di tata memanjang seharusnya di tata pararel dengan angin yang berhembus. Misalnya, jika angin berhembus  Arah memanjang dari tempat tidur cacing tanah dan tempat penampungan dari barat ke timur, maka wadah pemeliharaan harus ditata menjulur arah barat-timur. Hal ini akan mencegah angin yang sangat kuat bagian terbesar dari wadah pemeliharaan dan akan mencegah penutup wadah pemeliharaan yang digunakan agar tidak tertiup angin.
Seperti dijelaskan sebelumnya, dalam kondisi tertentu, cacing tanah memiliki kecenderungan untuk pergi meninggalkan wadah pemeliharaanya. Banyak pembudidaya berusaha untuk mencegah cacing agar tidak bermigrasi atau setidaknya mencoba untuk menangkap kembali sebelum mereka meninggalkan wadah pemeliharaanya atau mati. Dan untuk tidak diabaikan bagi pembudidaya, menyalakan lampu terus sepanjang malam dan pada hari-hari hujan atau berkabut sangat diperlukan. Dalam pembuatan wadah pemeliharaan kalau bisa tingginya melebihi media hidup yang di pakai, setidaknya 5 – 10 cm dari permukaan media hidup cacing tanah. Atau dengan metode yang lainnya, di bawah wadah pemeliharaan di beri alas dari terpal yang berfungsi sebagai untuk mengontrol jika ada cacing yang berusaha meninggalkan wadah pemeliharaannya sehingga mencegah mereka agar tidak cepat untuk menggali kedalam ketanah.
Meskipun media hidup dan wadah pemeliharaan yang paling sering digunakan oleh pembudidaya cacing memilih metode seperti, tumpukan bedeng dan sistem mengapit.
Tumpukan bedeng adalah tumpukan bergaris lurus pada tanah yang media hidup cacing tanah yang panjangnya sampai dengan 3 meter. Pembudidaya menggunakan metode ini bertujuan agar dapat mengontrol media hidup dan cacing tanah secara ekstensif baik dikandang terbuka atau dibawah penutup, tetapi membutuhkan lahan yang begitu luas atau bangunan cukup besar.
Sistem mengapit adalah sistem tumpukan bendeng yang dimodifikasi untuk memaksimalkan tempat yang ada dan mempermudah pemanenan lebih mudah karena tidak perlu untuk memisahkan cacing tanah dari vermikompostingnya. 



Monday, 30 December 2013

KEMATIAN CACING TANAH


Jika melihat banyak cacing keluar dari wadah pemeliharaan dan kemudian kita menemukannya mati, ini merupakan kondisi darurat dan segeralah bertindak cepat untuk menanganinya.

Pindahkan cacing ke wadah pemeliharaan yang lain secepatnya! Kalau tidak ada dalam keadaan darurat seperti ini, jangan panik, usahakan berpikir tenang untuk mendapatkan wadah pemeliharaan alternatif lainnya. Kita bisa menggunakan bak dari plastik, kotak kayu bekas, dll. Kemudian isi dengan media baru yang netral dan bersih serbuk gergaji kayu dicampur dengan bubur kertas Koran. Jika cacing sudah merasa nyaman di media hidup yang baru, kita tetap harus sesekali untuk memeriksanya apabila masalah – masalah yang baru mungkin mungkin saja terjadi, seperti ;

  1. Media terlalu basah sehingga membuat cacing tenggelam dan mati.
  2. Media terlalu kering.
  3. Cacing tidak mendapatkan cukup pasokan makanan. "Ketika cacing tidak menemukan segala sesuatu untuk dimakan di media hidupnya, mereka akan memulai memakan kotorannya sendiri, ini bisa berakibat fatal bagi cacing yang kita pelihara. Dalam kasus seperti ini kita harus memanen cacing sesegera mungkin.
  4. Suhu yang salah disekitar wadah pemeliharaan cacing tanah. Gunakan alat pengukur suhu untuk mengetahui suhu internal maupun suhu eksternal.
  5. Intensitas cahaya jangan terlalu tinggi atau terlalu terang, karena dapat membunuh cacing atau membuat mereka tidak nyaman.
  6. Jangan menggunakan air yang mengandung klor, karena hal ini bisa berbahaya bagi kesehatan cacing.
  7. PH yang salah. Media hidup cacing tanah bisa terlalu asam atau terlalu basa. Segera periksa dengan alat pengukur pH. Ukuran pH idealnya adalah 6,5 – 7,2. Jika tidak menemukan pH yang salah dengan media hidupnya, mungkin akan lebih mudahnya adalah membuang media yang bermasalah kemudian diganti media yang baru dan makanan yang baru pula.
Setelah diganti semuanya, kali ini diharapkan untuk memantau setiap perubahan yang terjadi, kalau bisa catat semua masalah yang ada untuk dijadikan referensi jika ada masalah selanjutnya.

Sunday, 29 December 2013

CACING MENINGGALKAN MEDIANYA

Cacing yang digunakan untuk sistem kompos adalah cacing yang bisa beradaptasi dengan kondisi apapun dan beberapa spesies cacing yang lainnya memilih kondisi yang tertentu.
  1. Apakah kita tahu jenis cacing apa yang kita budidayakan? Ketika kita memesan cacing, pastikan untuk meminta nama ilmiah karena banyak cacing memiliki beberapa nama umum tergantung pada siapa kita bertanya. Cari tahu pasti dengan meminta nama ilmiah dan kemudian mencari kondisi khusus untuk spesies cacing yang mau kita budidayakan. Kalau kita sudah tahu jenis cacing apa yang kita budidayakan barulah kita mengontrol tingkat kelembaban, temperatur, dan pH khusus untuk cacing yang akan kita budidayakan.
  2. Gunakan lampu untuk menjaga mereka tetap berada di media hidupnya. Ketika cacing dikirim dalam perjalanan, otomatis cacing menjadi stres. Untuk menghindari stress setelah itu cacing meninggalkan media hidupnya dan  kadang juga mereka akan bertingkah aneh seperti tidak mau makan, tidak mau masuk kedalam medianya dll. Kondisi yang seperti ini mungkin saja terjadi, cara mengatasinya gampang, letakkan wadah pemeliharaan cacing dibawah penerangan lampu selama beberapa jam untuk memaksa cacing tidak keluar dari media hidupnya dan membiasakan cacing untuk menempati rumah baru mereka.

Thursday, 24 January 2013

BAHAN BAKU MEMBUAT MEDIA HIDUP CACING TANAH

Bahan baku pembuatan media budidaya cacing tanah yang paling baik adalah yang banyak mengandung bahan organik. Bahan organik mudah mengalami pelapukan dan bahan yang paling baik untuk media budidaya cacing tanah adalah bahan yang sudah mengalami pelapukan. Selain itu, media juga harus mengandung protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral. Hampir semua kotoran ternak dapat digunakan sebagai media hidup cacing tanah. Perlu dipilih kotoran ternak yang baru saja dikeluarkan oleh ternak itu sendiri (rumen).
Selain kotoran hewan dapat pula menggunakan kotoran media kompos, serbuk gergaji, ampas tebu dan batang pisang.

  1. Kotoran Hewan : Kotoran Hewan harus difermentasikan terlebih dahulu selama 1-2 minggu, kemudian dicampur dengan bahan-bahan yang lain dengan perbandingan 3:1. 
  2. Serbuk Gergaji : Serbuk gergaji sangat baik untuk pembuatan media budidaya cacing tanah namun harus dihindari kayu yang mengandung minyak seperti kayu manis, kayu pinus, kayu suren, atau kayu jeruk karena kayu yang mengandung minyak tidak disukai cacing bahkan bisa menyebabkan kematian. Sebelum digunakan serbuk kayu difermentasi dahulu selama 2-3 minggu atau direndam dalam air selama 1 minggu. Serbuk gergaji yang sudah siap untuk dijadikan media budidaya akan lebih bagus apabila dicampur dengan cacahan batang pisang yang telah membusuk. Bila lokasi budidaya cacing tanah dekat dengan lokasi budidaya jamur tiram, jamur kuping, dan lain-lain, limbah bekas budidaya jamur sangat bagus untuk digunakan sebagai media. Karena serbuk gergaji yang dipakai adalah dari kayu sengon atau bisa dengan penambahan dedak! bekatul, dan telah terdekomposisi oleh jamur yang ditumbuhkan.
  3. Ampas Tebu: Jika lokasi budi daya cacing dekat dengan pabrik gula, maka ampas  tebu dapat digunakan sebagai media budidaya cacing tanah.
  4. Ampas Tahu : Jika didaerah anda dekat dengan perusahaan tahu, silahkan untuk makanan Cacing bisa menggunakan ampas tahu.

Tuesday, 15 January 2013

BAU TIDAK SEDAP ; BUDIDAYA CACING TANAH

Bau tidak sedap dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain; 
  1. Wadah pemeliharaan penuh dengan sisa makanan yang sempat termakan oleh cacing. Oleh karena itu dalam pemberian pakan jangan terlalu banyak, karena sisa makan yang tersisa akan menyebabkan bau busuk. Untuk memperbaikinya, hancurkan setiap gumpalan makanan dan berhenti menambahkan makanan sampai cacing memiliki kesempatan untuk makan apa yang telah disediakan. Kita juga harus mencoba menutupi makanan baik dengan bahan plastik atau lembaran koran yang sudah dibasahi dengan air.
  2. Media hidup cacing harus diusahakan berongga atau longgar agar udara bisa masuk kedalam bersamaan dengan cacing. Aduk – aduk media dengan lembut agar media mendapatkan oksigen lebih banyak.  Yang menyebabkan media kita bau adalah ada bakteri anaerob yang bisa tumbuh tanpa adanya oksigen. Kita mungkin perlu mengulang untuk mengaduk – aduk media ketika mengecek media hidup cacing tanah terlalau padat atau tidak terlalu longgar.
  3. Media terlalu basah. Periksa lubang drainase yang telah kita buat, apakah lubang – lubang itu tersumbat atau tidak. Sebab jika lubang drainase tersumbat mengakibatkan kelembaban media meningkat sehingga berdampak penurun kadar oksigen di dalam media hidup cacing tanah. Mungkin ini disebabkan saat pemberian makan terlalu banyak mengandung air. Setiap kali kita memberikan makanan usahakan meletakkan kertas koran diatas makanan yang kita berikan. Tujuannya adalah untuk menyerap kelembaban yang berlebihan dalam makanan tersebut. Selain itu, hindari menambahkan air atau makanan dengan tingkat kelembaban tinggi untuk sementara waktu, seperti bubur buah – buahan yang mengandung kadar air tinggi atau menambahkan media yang baru dalam wadah pemeliharaan itu juga bisa membantu. Jika media hidup cacing tanah benar – benar dalam kondisi basah cacing bisa berada dalam keadaan bahaya tenggelam, untuk itu serap air sebanyak sebanyak mungkin hingga tingkat kelembaban media menurun.
  4. Media terlalu asam. Kondisi terlalu asam dapat menyebabkan bau. Uji media dengan pH meter (banyak tersedia ditoko – took pertanian). Kurangi jumlah makanan yang mengandung asam untuk diberikan kepada cacing. Coba tambahkan kulit telur ditumbuk halus untuk menurunkan pH. Usahakan menambahkan kulit telur sebulan sekali untuk menyeimbangkan pH. Produk yang aman lainnya yang dapat menetralkan asam media adalah debu batu dan kalsium karbonat. Kedua produk ini juga akan memberikan grit ke cacing. Beberapa orang lebih suka menggunakan kapur untuk menurunkan pH, tetapi harus diwaspadai pemberian kapur dapat menurunkan pH secara dramatis jika kita menggunakan terlalu banyak. Disisi lain kapur juga memberikan dampak yang buruk terhadap cacing.
  5. Beberapa makanan bisa menimbulkan bau. Hindari sayuran atau buah – buahan yang bisa memunculkan bau busuk seperti sawi, kubis, buah papaya dll.
  6. Memberikan makan yang salah. Produk daging, produk susu, dan makanan yang sangat berminyak sebaiknya tidak diberi kepada cacing. Cacing biasanya pergi meninggalkannya dan membiarkanya membusuk dan menyebabkan bau yang mengerikan.

Wednesday, 2 May 2012

REPRODUKSI CACING TANAH (ANATOMI)

Cacing tanah adalah hermafrodit dimana setiap cacing tanah mempunyai dua organ seks ganda yaitu; laki-laki dan perempuan. Organ seks pria dan wanita dapat menghasilkan sperma dan sel telur masing-masing di setiap cacing tanah. Meskipun cacing tanah adalah hermafrodit, mereka masih membutuhkan pasangan untuk bereproduksi. Selama kawin, dua cacing berbaris terbalik satu sama lain sehingga sperma bisa ditukar. Masing-masing cacing tanah memiliki dua bukaan laki-laki dan dua wadah sperma, yang bisa mengambil sperma dari pasangan lain. Cacing tanah memiliki sepasang ovarium yang memproduksi telur. Clitellum akan membentuk tabung lendir di sekitarnya, yang akan mengisi dengan cairan zat putih telur. Cacing akan bergerak maju keluar dari tabung lendir. Seperti cacing tanah melewati tabung lendir, tabung akan melewati pori perempuan mengambil telur. Tabung akan terus bergerak ke bawah cacing tanah dan melewati pori laki-laki disebut spermatheca yang memiliki sperma yang disimpan disebut spermatozoa. Telur akan membuahi dan tabung lendir akan menutup, setelah selesai lendir cacing akan bergerak keluar dari tabung. Tabung lendir akan membentuk "telur kepompong" dan dimasukkan ke dalam tanah. Telur yang sudah dibuahi akan berkembang dan menjadi cacing muda. 

Wednesday, 4 April 2012

HAMA ; LALAT PRAJURIT (Stratiomyidae) atau MANGGOT

Adalah lalat sejati yang dalam penampilan dan perilaku mereka menyerupai tawon atau lebah. Lalat ini tidak menggigit atau menyengat. Lalat dewasa sering ditemukan pada bunga, dan mempunyai variasi warna bermacam-macam dari hitam, biru metalik, hijau atau ungu. Kita dapat mengetahui mereka lalat sejati bukan tawon ataupun melihat dari anatominya, lalat hanya memiliki dua sayap, sedangkan tawon atau lebah memiliki empat sayap. Disaat mereka beristirahat, sayap mereka dilipat seperti gunting di perut mereka.
 
Larva dari lalat prajurit ini adalah pengkomsumsi makanan yang sangat agresif dalam wadah pemeliharaan cacing tanah. Ketika populasi mereka semakin banyak mereka bisa membuat cacing tanah pasif dalam medianya, cacing akan mengalah dan menjauh dari makanan yang didiami larva dari lalat prajurit tersebut. Untuk sementara cacing tanah akan menghindar menuju ketempat paling bawah media sambil menunggu larva tersebut tumbuh dewasa dan siap terbang meninggalkan wadah pemeliharaan cacing tanah. Jika kita melihat cacing tanah berprilaku demikian, usahakan untuk memberikan makanan untuk cacing tanah dengan cara ditanam atau dimasukkan di dasar media hidup cacing tanah untuk menghindari cacing tanah kelaparan. Perubahan larva dalam warna dari putih kemudian berubah menjadi coklat muda dan terakhir berwarna abu-abu kehitaman. Penampilan mereka sangat tidak enak dilihat, karena bentuk mereka sangat besar dan jelek dipandang seperti belatung yang tersegmentasi. Mereka memiliki sekitar 10 segmen yang sangat kasar berbulu jika dipegang dan dibagian bawahnya halus. Salah satu ujung bulat dan ujung yang lain lancip.
Larva seperti ini banyak ditemukan dalam jumlah besar pada bahan-bahan organik, dan dapat mentolerir kondisi yang sangat panas sekalipun. Jika merasa terganggu, mereka akan mundur dari cahaya, seperti halnya yang dilakukan cacing tanah. Mungkin beberapa orang akan berusaha memungutinya untuk dibuang di tempat sampah dan ada pula yang digunakan sebagai pakan ayam yang lezat, bebek, burung maupun ikan. Larva lalat prajurit hewan yang tidak berbahaya bagi cacing tanah yang kita pelihara. Mereka juga merupakan dekomposer yang sangat baik dan, jika diizinkan untuk tinggal di dalam wadah pemeliharaan cacing kita, mereka akan membantu cacing tanah kita mendaur ulang limbah juga. Hanya saja pastikan cacing tanahjuga  mendapatkan makan banyak juga.

Top Categories