Showing posts with label Manfaat. Show all posts
Showing posts with label Manfaat. Show all posts

Friday, 15 June 2018

SEBAGAI PENGOLAH SAMPAH DAN PENGHASIL PUPUK (KASCING)

Banyak Negara yang menggunakan cacing tanah sebagai media pengolah sampah. Cacing tanah mempunyai kemampuan yang cukup besar dan cukup mengagumkan untuk memusnahkan bahan organik. Namun hanya limbah organik yang dapat diolah cacing tanah menjadi kompos. Limbah yang tidak dapat diurai adalah yang mengandung garam dapur, detergen atau insektisida. Limbah seperti plastik, besi, logam, kaca, dan karet juga bisa diuraikan oleh cacing.
Bahan organik merupakan sumber makanan utama bagi cacing tanah. Setelah bahan organik dimakan maka dihasilkan pupuk organik. Pupuk organik tersebut lebih dikenal sebagai kascing (bekas cacing). 1 kg cacing dapat mengolah 1 kg sampah dapur dan menghasilkan kascing 0,5 kg setiap harinya. Sistem pencernaan cacing tanah berisi berbagai enzim yang mampu mengurai sampah bahkan dapat menetralisir zat-zat beracun. 
Kascing mengandung berbagai bahan atau komponen yang bersifat biologis maupun kimiawi yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Kandungan mikroorganik kascing 3-4 kali lebih tinggi dibanding pupuk kandang biasa. Pada dasarnya proses pengomposan merupakan kerja sama cacing dengan mikroorganisme lain. Mikroorganisme menguraikan hasil samping cacing tanah sehingga kerja mikroorganisme lebih efektif dan cepat. 

NO
PARAMETER
KASCING
KOMPOS
1.
C. Organik
20,69%
25,04%
2.
pH (H2O)
6,8
6
3.
N total
1,90%
1,19%
4.
P tersedia
33,54 ppm
-
5.
P total
61,42 ppm
-
6.
Ca
30,00 (me/100g)
10,75 (me/100g)
7.
Mg
15,23 (me/100g)
3,13 (me/100g)
8.
K
10,31 (me/100g)
7,26 (me/100g)
9.
Na
2,42 (me/100g)
5,30 (me/100g)
10.
Kapasitas Tukar Kation
68,95 (me/100g)
35,50 (me/100g)
11.
Kejenuhan basa
84,00 %
74,48 %
Tabel perbandingan unsur hara dalam kascing dan kompos

CACING TANAH INVESTASI TERBESAR UNTUK PERTANIAN

Dengan aktivitas mereka di dalam tanah, cacing tanah menawarkan banyak manfaat: seperti yang dilaporkan dalam publikasi Dr. Ni Luh Kartini, seorang ahli tanah dan penemu pupuk “kascing” dari Universitas Udayana-Bali, mengungkapkan bahwa lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya memang lebih subur. Sebab, tanah yang bercampur dengan kotoran cacing memberikan manfaat bagi tanaman. Proses pengubahan kondisi tanah dapat dijelaskan secara ilmiah. Awalnya, cacing tanah membuat lubang dengan cara mendesak massa tanah atau memakan langsung massa tanah (Minnich 1977). Setelah dicerna, sisa-sisa bahan tersebut dilepaskan kembali sebagai bahan buangan padat (kotoran).
Hal ini diamini oleh Edwards dan Lofty (1977), penulis buku yang mengupas biologi tentang cacing tanah, “Biology of Earthworms” di New York 1977 yang menyatakan, sebagian besar bahan tanah dikembalikan ke dalam tanah dalam bentuk nutrisi yang mudah dimanfaatkan oleh tanaman. Namun, produksi alami kotoran cacing tanah di alam bergantung pada spesies, musim, dan kondisi populasi yang sehat.
Selain itu, kotoran cacing tanah juga kaya usur hara. Pasalnya, aktivitas cacing tanah mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, dan K di dalam tanah. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Penelitian terhadap tanah-tanah gundul di bekas tambang di Ohio, Amerika Serikat, menunjukkan, cacing tanah dapat meningkatkan kadar K tersedia 19% dan P tersedia 165%.

a. Meningkatkan ketersediaan nutrisi
Cacing memakan sisa-sisa tanaman (akar mati, daun, rumput, pupuk) dan tanah. Sistem pencernaan mereka berkonsentrasi konstituen organik dan mineral dalam makanan yang mereka makan, sehingga kotoran mereka kaya akan nutrisi yang tersedia daripada tanah asli di sekitar mereka. Nitrogen di kotoran cacing tersedia bagi tanaman. Tubuh cacing membusuk dengan cepat, memberikan kontribusi bagi kandungan nitrogen tanah. Selain itu cacing sering meninggalkan kotorannya yang kaya akan nutrisi dalam liang mereka, menyediakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan akar tanaman. Dalam liang mereka juga memungkinkan akar untuk menembus lebih masuk ke dalam tanah, di mana tanaman dapat mencapai kelembaban ekstra dan banyak nutrisi. Cacing juga bisa membantu memasukkan kapur dan pupuk ke dalam tanah.

b. Memperbaiki drainase dan Aerasi tanah
Penyaluran secara ekstensif dan menggali yang dilakukan cacing tanah menggemburkan serta mengaerates tanah guna meningkatkan drainase tanah. Tanah dengan cacing tanah mengalirkan hingga 10 kali lebih cepat dibanding tanah tanpa cacing tanah. Pada nol tanah, di mana populasi cacing yang tinggi, infiltrasi air bisa mencapai 6 kali lebih besar daripada di tanah dibudidayakan. Liang cacing tanah juga berfungsi, di bawah pengaruh hujan, irigasi dan gravitasi, sebagai jalan masuk bagi kapur dan bahan-bahan lainnya untuk masuk kedalam tanah.


c. Meningkatkan struktur tanah
Cacing tanah melepaskan partikel semen tanah bersama dalam agregat air yang stabil. Mereka mampu menyimpan kelembaban tanpa pendispresi. Penelitian telah menunjukkan bahwa cacing tanah yang meninggalkan kotoran mereka di permukaan tanah guna membangun kembali lapisan tanah atas. Dalam kondisi yang menguntungkan mereka dapat membawa sekitar 50 ton / ha per tahun, cukup untuk membentuk lapisan tanah setebal 5 mm. Satu percobaan ditemukan cacing membangun humus setebal 18 cm dalam kurun waktu 30 tahun.

Sunday, 14 April 2013

CACING TANAH UNTUK KESEHATAN

Cacing tanah memiliki banyak khasiat. Dalam dunia modern, senyawa aktif cacing tanah digunakan sebagai bahan obat. Diantaranya untuk mengobati demam, tifus, rematik, batu ginjal, dan cacar air. Selain itu, ditemukan pula cacing tanah bermanfaat untuk menyembuhkan untuk mencegah dan mengobati penyumbatan pembuluh darah jantung (ischemic) yang berisiko mengundang penyakit jantung koroner (PJK), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan stroke.

Di RRC, Korea, Vietnam, dan banyak tempat lain di Asia Tenggara, cacing tanah terutama dari jenis Lumbricus spp, juga telah digunakan sebagai obat sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan, tak sedikit produk kosmetik yang memanfaatkan bahan aktif tersebut sebagai substrat pelembut kulit, pelembab wajah, dan antiinfeksi. Sebagai produk herbal, telah banyak merek tonikum yang menggunakan ekstrak cacing tanah sebagai campuran bahan aktif.
Ba Hoang, MD, PhD, juga di Vietnam, yang berpraktek pengobatan konvensional dan pengobatan tradisional China, telah membuktikan efektivitas cacing tanah untuk mengobati pasien-pasiennya yang mengidap stroke, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah (arterosklerosis), kejang ayan (epilepsi), dan berbagai penyakit infeksi. Resep-resepnya telah banyak dijadikan obat paten untuk pengobatan alergi, radang usus, dan stroke. Uji coba klinis serbuk enzim cacing tanah ini dilakukan terhadap 453 pasien penderita gangguan pembuluh darah (ischemic cerebrovascular disease) dengan 73% kesembuhan total.
Penyembuhan tifus dapat terjadi karena peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus. Jika sel tubuh terluka oleh rangsangan pirogen seperti bakteri, virus, atau parasit, membran sel yang tersusun oleh fosfolipid akan rusak. Salah sati komponen asam lemak fosfolipid, yaitu asam arakidonat, akan terputus dari ikatan molekul fosfolipid.Asam arakidonat akan membentuk prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase. Prostaglandin inilah yang merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Gejala demam dapat diatasi dengan obat antipiretik.Cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai antipiretik.
Komponen kimia cacing tanah tidak menimbulkan efek toksik bagi manusia sehingga aman dikonsumsi. Pengujian ekstrak cacing tanah untuk melihat aktivitasnya sebagai antipiretik dilakukan menggunakan hewan percobaan tikus putih yang didemamkan dengan penyuntikan vaksin campak. Suhu normal tikus putih mirip dengan manusia, yaitu berkisar antara 35,9 hingga 37,5 derajat Celcius. Tikus putih yang sudah demam diobati dengan ekstrak cacing tanah dan parasetamol sebagai kontrol. Setelah didemamkan suhu tubuh tikus putih diukur dengan diamati pergerakan suhunya.Kelompok tikus putih yang tidak diberi pengobatan meningkat suhunya hingga perbedaannya rata-rata 1,8 derajat Celcius dari suhu normalnya. Sementara itu, yang diberi ekstrak cacing tanah hanya meningkat sedikit suhunya hingga perbedaannya 0,8 derajat Celcius.Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan oleh ekstrak cacing tanah. Bahkan, ketika telah dipisahkan senyawa aktifnya secara kasar, kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan hingga 0,4 derajat Celcius saja.

Sunday, 17 February 2013

KHASIAT BINATANG MENJIJIKAN INI BAGI MANUSIA

Cacing tanah memiliki banyak khasiat. Dalam dunia modern, senyawa aktif cacing tanah digunakan sebagai bahan obat. Diantaranya untuk mengobati demam, tifus, rematik, batu ginjal, dan cacar air. Selain itu, ditemukan pula cacing tanah bermanfaat untuk menyembuhkan untuk mencegah dan mengobati penyumbatan pembuluh darah jantung (ischemic) yang berisiko mengundang penyakit jantung koroner (PJK), tekanan darah tinggi (hipertensi), dan stroke.
Di RRC, Korea, Vietnam, dan banyak tempat lain di Asia Tenggara, cacing tanah terutama dari jenis Lumbricus spp, juga telah digunakan sebagai obat sejak ribuan tahun yang lalu. Bahkan, tak sedikit produk kosmetik yang memanfaatkan bahan aktif tersebut sebagai substrat pelembut kulit, pelembab wajah, dan antiinfeksi. Sebagai produk herbal, telah banyak merek tonikum yang menggunakan ekstrak cacing tanah sebagai campuran bahan aktif.


Ba Hoang, MD, PhD, juga di Vietnam, yang berpraktek pengobatan konvensional dan pengobatan tradisional China, telah membuktikan efektivitas cacing tanah untuk mengobati pasien-pasiennya yang mengidap stroke, hipertensi, penyumbatan pembuluh darah (arterosklerosis), kejang ayan (epilepsi), dan berbagai penyakit infeksi. Resep-resepnya telah banyak dijadikan obat paten untuk pengobatan alergi, radang usus, dan stroke. Uji coba klinis serbuk enzim cacing tanah ini dilakukan terhadap 453 pasien penderita gangguan pembuluh darah (ischemic cerebrovascular disease) dengan 73% kesembuhan total.
Penyembuhan tifus dapat terjadi karena peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus. Jika sel tubuh terluka oleh rangsangan pirogen seperti bakteri, virus, atau parasit, membran sel yang tersusun oleh fosfolipid akan rusak. Salah sati komponen asam lemak fosfolipid, yaitu asam arakidonat, akan terputus dari ikatan molekul fosfolipid.Asam arakidonat akan membentuk prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase. Prostaglandin inilah yang merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Gejala demam dapat diatasi dengan obat antipiretik.Cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai antipiretik.
Komponen kimia cacing tanah tidak menimbulkan efek toksik bagi manusia sehingga aman dikonsumsi. Pengujian ekstrak cacing tanah untuk melihat aktivitasnya sebagai antipiretik dilakukan menggunakan hewan percobaan tikus putih yang didemamkan dengan penyuntikan vaksin campak. Suhu normal tikus putih mirip dengan manusia, yaitu berkisar antara 35,9 hingga 37,5 derajat Celcius. Tikus putih yang sudah demam diobati dengan ekstrak cacing tanah dan parasetamol sebagai kontrol. Setelah didemamkan suhu tubuh tikus putih diukur dengan diamati pergerakan suhunya.Kelompok tikus putih yang tidak diberi pengobatan meningkat suhunya hingga perbedaannya rata-rata 1,8 derajat Celcius dari suhu normalnya. Sementara itu, yang diberi ekstrak cacing tanah hanya meningkat sedikit suhunya hingga perbedaannya 0,8 derajat Celcius.Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan oleh ekstrak cacing tanah. Bahkan, ketika telah dipisahkan senyawa aktifnya secara kasar, kenaikan suhu tikus putih yang didemamkan dapat ditahan hingga 0,4 derajat Celcius saja.

Top Categories