Monday, 18 June 2018

PELATIHAN VERMIKOMPOS DUSUN NGANTRU, DESA SEKARAN, KECAMATAN KASIMAN BOJONEGORO

Masih banyak petani dan peternak  belum paham betul tentang integrated farming. Sebagai bukti, masih banyak dijumpai penumpukan kotoran-kotoran hasil ternak di beberapa desa di Daerah Bojonegoro Jawa Timur.
Kotoran sapi yang dihasilkan terkadang dibiarkan menumpuk begitu saja di kandang. Kotoran-kotoran sapi tersebut tidak dipergunakan oleh pemiliknya. Akibatnya, timbul pencemaran udara karena bau dan muncul banyak vektor penyakit seperti lalat, cacing, kutu, caplak, tungau dan lain-lain. 
“Seperti di Dusun Ngantru, Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro. Di wilayah ini mayoritas warga memelihara sapi potong sekaligus berkecimpung sebagai petani palawija, tapi sayang sistem pertanian terpadu ini belum diterapkan," ujar Ahmad Khairul Hakim, M.Si Dosen Fakultas Manajemen UINSA Surabaya.
Sistem pertanian yang terintegrasi atau lebih sering disebut integrated farming merupakan sistem yang memadukan sektor pertanian dengan beberapa sektor lain, salah satunya adalah sektor peternakan. Contoh perpaduan ini berupa penggunaan kotoran ternak sebagai pupuk serta menggunakan limbah pertanian sebagai pakan ternak. Mestinya dengan penerapan integrated farming ini akan lebih menguntungkan karena limbah masing-masing sektor dapat dimanfaatkan sebanyak-banyaknya.
Untuk itulah beliau lantas memperkenalkan pupuk organik pada masyarakat petani dan peternak. Bersama dengan Timnya, M. Firman M, SE., MM., Saiku Rokhim, M. KKK., dan Dr. Mustafa Hermanto, MM. bekerjasama dengan BALITBANG Provinsi Jawa Timur, memperkenalkan metode pembuatan pupuk organik dari bahan dasar kotoran ternak sapi (Vermikompos). Vermikomposting adalah metode menggunakan cacing sebagai media atau alat untuk menguraikan limbah kotoran ternak sapi, diubah menjadi Pupuk Orgnik kaya nutrisi yang mampu memasok nutrisi yang diperlukan untuk membantu mempertahankan pertumbuhan tanaman. Selain itu, kotoran cacing tanah juga kaya usur hara. Pasalnya, aktivitas cacing tanah mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, dan K di dalam tanah. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Karena menurut para Peneliti cacing tanah dapat meningkatkan kadar K tersedia 19% dan P tersedia 165%.
Keempat dosen UINSA Surabaya sebelumnya mengadakan sosialisasi kepada warga setempat mengenai keunggulan pupuk organik Kascing dan cara pembuatannya. Keempat dosen ini mengadakan penelitian bertujuan untuk memperkenalkan manfaat vermikomposting bagi sektor pertanian, peternakan maupun sektor perekonomian masyarakat Dusun Ngantru, Desa Sekaran, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro.
Banyak warga Dusun Ngantru sangat antusias terkait pembuatan pupuk ini. Mereka merasa sangat senang dengan program ini, disamping mampu menghasilkan pupuk, tingkat pencemaran akibat kotoran pun dapat berkurang serta dapat menambah perekonomian warga setempat.

Friday, 15 June 2018

SEBAGAI PENGOLAH SAMPAH DAN PENGHASIL PUPUK (KASCING)

Banyak Negara yang menggunakan cacing tanah sebagai media pengolah sampah. Cacing tanah mempunyai kemampuan yang cukup besar dan cukup mengagumkan untuk memusnahkan bahan organik. Namun hanya limbah organik yang dapat diolah cacing tanah menjadi kompos. Limbah yang tidak dapat diurai adalah yang mengandung garam dapur, detergen atau insektisida. Limbah seperti plastik, besi, logam, kaca, dan karet juga bisa diuraikan oleh cacing.
Bahan organik merupakan sumber makanan utama bagi cacing tanah. Setelah bahan organik dimakan maka dihasilkan pupuk organik. Pupuk organik tersebut lebih dikenal sebagai kascing (bekas cacing). 1 kg cacing dapat mengolah 1 kg sampah dapur dan menghasilkan kascing 0,5 kg setiap harinya. Sistem pencernaan cacing tanah berisi berbagai enzim yang mampu mengurai sampah bahkan dapat menetralisir zat-zat beracun. 
Kascing mengandung berbagai bahan atau komponen yang bersifat biologis maupun kimiawi yang sangat dibutuhkan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Kandungan mikroorganik kascing 3-4 kali lebih tinggi dibanding pupuk kandang biasa. Pada dasarnya proses pengomposan merupakan kerja sama cacing dengan mikroorganisme lain. Mikroorganisme menguraikan hasil samping cacing tanah sehingga kerja mikroorganisme lebih efektif dan cepat. 

NO
PARAMETER
KASCING
KOMPOS
1.
C. Organik
20,69%
25,04%
2.
pH (H2O)
6,8
6
3.
N total
1,90%
1,19%
4.
P tersedia
33,54 ppm
-
5.
P total
61,42 ppm
-
6.
Ca
30,00 (me/100g)
10,75 (me/100g)
7.
Mg
15,23 (me/100g)
3,13 (me/100g)
8.
K
10,31 (me/100g)
7,26 (me/100g)
9.
Na
2,42 (me/100g)
5,30 (me/100g)
10.
Kapasitas Tukar Kation
68,95 (me/100g)
35,50 (me/100g)
11.
Kejenuhan basa
84,00 %
74,48 %
Tabel perbandingan unsur hara dalam kascing dan kompos

CACING TANAH INVESTASI TERBESAR UNTUK PERTANIAN

Dengan aktivitas mereka di dalam tanah, cacing tanah menawarkan banyak manfaat: seperti yang dilaporkan dalam publikasi Dr. Ni Luh Kartini, seorang ahli tanah dan penemu pupuk “kascing” dari Universitas Udayana-Bali, mengungkapkan bahwa lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya memang lebih subur. Sebab, tanah yang bercampur dengan kotoran cacing memberikan manfaat bagi tanaman. Proses pengubahan kondisi tanah dapat dijelaskan secara ilmiah. Awalnya, cacing tanah membuat lubang dengan cara mendesak massa tanah atau memakan langsung massa tanah (Minnich 1977). Setelah dicerna, sisa-sisa bahan tersebut dilepaskan kembali sebagai bahan buangan padat (kotoran).
Hal ini diamini oleh Edwards dan Lofty (1977), penulis buku yang mengupas biologi tentang cacing tanah, “Biology of Earthworms” di New York 1977 yang menyatakan, sebagian besar bahan tanah dikembalikan ke dalam tanah dalam bentuk nutrisi yang mudah dimanfaatkan oleh tanaman. Namun, produksi alami kotoran cacing tanah di alam bergantung pada spesies, musim, dan kondisi populasi yang sehat.
Selain itu, kotoran cacing tanah juga kaya usur hara. Pasalnya, aktivitas cacing tanah mampu meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, dan K di dalam tanah. Unsur-unsur tersebut merupakan unsur pokok bagi tanaman. Penelitian terhadap tanah-tanah gundul di bekas tambang di Ohio, Amerika Serikat, menunjukkan, cacing tanah dapat meningkatkan kadar K tersedia 19% dan P tersedia 165%.

a. Meningkatkan ketersediaan nutrisi
Cacing memakan sisa-sisa tanaman (akar mati, daun, rumput, pupuk) dan tanah. Sistem pencernaan mereka berkonsentrasi konstituen organik dan mineral dalam makanan yang mereka makan, sehingga kotoran mereka kaya akan nutrisi yang tersedia daripada tanah asli di sekitar mereka. Nitrogen di kotoran cacing tersedia bagi tanaman. Tubuh cacing membusuk dengan cepat, memberikan kontribusi bagi kandungan nitrogen tanah. Selain itu cacing sering meninggalkan kotorannya yang kaya akan nutrisi dalam liang mereka, menyediakan lingkungan yang menguntungkan bagi pertumbuhan akar tanaman. Dalam liang mereka juga memungkinkan akar untuk menembus lebih masuk ke dalam tanah, di mana tanaman dapat mencapai kelembaban ekstra dan banyak nutrisi. Cacing juga bisa membantu memasukkan kapur dan pupuk ke dalam tanah.

b. Memperbaiki drainase dan Aerasi tanah
Penyaluran secara ekstensif dan menggali yang dilakukan cacing tanah menggemburkan serta mengaerates tanah guna meningkatkan drainase tanah. Tanah dengan cacing tanah mengalirkan hingga 10 kali lebih cepat dibanding tanah tanpa cacing tanah. Pada nol tanah, di mana populasi cacing yang tinggi, infiltrasi air bisa mencapai 6 kali lebih besar daripada di tanah dibudidayakan. Liang cacing tanah juga berfungsi, di bawah pengaruh hujan, irigasi dan gravitasi, sebagai jalan masuk bagi kapur dan bahan-bahan lainnya untuk masuk kedalam tanah.


c. Meningkatkan struktur tanah
Cacing tanah melepaskan partikel semen tanah bersama dalam agregat air yang stabil. Mereka mampu menyimpan kelembaban tanpa pendispresi. Penelitian telah menunjukkan bahwa cacing tanah yang meninggalkan kotoran mereka di permukaan tanah guna membangun kembali lapisan tanah atas. Dalam kondisi yang menguntungkan mereka dapat membawa sekitar 50 ton / ha per tahun, cukup untuk membentuk lapisan tanah setebal 5 mm. Satu percobaan ditemukan cacing membangun humus setebal 18 cm dalam kurun waktu 30 tahun.

Thursday, 14 June 2018

VERMIKOMPOS

Dalam beberapa tahun terakhir, pembuangan limbah organik dari berbagai sumber seperti rumah tangga, pertanian dan industri telah menyebabkan bahaya lingkungan yang serius. Pembakaran limbah organik memberikan kontribusi sangat buruk terhadap pencemaran lingkungan sehingga menyebabkan polusi udara, air dan tanah. Proses ini juga melepaskan dalam jumlah besar karbon dioksida ke atmosfer dan merupakan kontributor utama pemanasan global bersamaan dengan partikel – partikel debu. Pembakaran juga menghancurkan kandungan bahan organik tanah, membunuh populasi mikroba dan mempengaruhi sifat fisik tanah. 
Dalam kondisi seperti penggunaan cacing tanah sebagai pengolah sampah rumah tangga, sampah kota, limbah lumpur dan limbah dari industri kertas, kayu dan makanan adalah pilihan yang terbaik. Penggunaan cacing tanah dalam proses pengomposan mengurangi waktu stabilisasi limbah dan menghasilkan bio-produk yang efisien, yaitu, kascing.
Sistem pertanian organik adalah sistem pertanian yang selalu memperhatikan kualitas pupuk dan kesehatan tanah. Kascing dan vermicultur terkait dengan input biologis lainnya benar – benar digunakan untuk menanam sayuran dan tanaman lainnya. Tingkat keberhasilannya pun telah dinyatakan produktif dan ekonomis. Dalam hal ini, daur ulang sampah organik dengan menggunakan jasa cacing tanah sangat layak untuk menghasilkan pupuk organik yang berguna untuk aplikasi pertanian. Kompos ini akhirnya menjadi aspek penting dalam upaya untuk meningkatkan produktivitas makanan dengan cara yang ramah lingkungan. 
Vermikomposting menawarkan solusi pengolahan limbah organik untuk dijadikan sebagai pupuk organik pertanian yang ramah akan lingkungan sekitar. Oleh karena itu vermikomposting membantu memberikan banyak keuntungan seperti, menghilangkan penggunaan bahan kimia dalam bentuk pupuk atau pestisida, mendaur ulang dan regenerasi sampah menjadi pupuk organik; memperbaiki tanah, tanaman, hewan dan kesehatan manusia, serta menciptakan ecofriendly.

SEKILAS TENTANG CACING TANAH

Para ahli biologi maupun pertanian, mengakui bahwa cacing tanah sebagai indikator tingkat kesuburan tanah. Cacing tanah sebagai makroorganisme berperan sangat penting dalam proses pelapukan bahan-bahan organik didalam tanah dan menentukan tingkat kesuburan tanah.
Cacing tanah merupakan makhluk hidup yang memberikan multimanfaat bagi kehidupan manusia. Hewan ini tampak begitu lunak dan bagi sebagian orang menganggap sangat menjijikan. Akan tetapi hewan ini mempunyai potensi yang sangat besar bagi kehidupan dan kesejahteraan manusia. 
Peranan cacing tanah ini sebenarnya telah diketahui sejak dahulu kala. Seorang ahli Yunani, Aristoteles, banyak menaruh perhatian terhadap cacing tanah. Ia menyebut cacing tanah adalah perutnya bumi. Pada tahun 69-30 sebelum Masehi, ratu cantik Cleopatra yang saat  itu berkuasa di Mesir melarang bangsa Mesir memindahkan cacing tanah ke luar dari Mesir, bahkan petaninya dilarang menyentuh cacing sebab pada zaman itu cacing tanah dianggap sebagai Dewa Kesuburan. Dalam catatan klasik Tiongkok, cacing tanah disebut tilung atau naga tanah. Cacing ini sejak dahulu kala mereka gunakan dalam berbagai ramuan untuk menyembuhkan bermacam-macam penyakit.
Seorang cendekiawan terkenal, Charles Darwin, telah menghabiskan waktunya selama hampir 40 tahun untuk mengamati kehidupan cacing tanah. la menyebut cacing tanah sebagai mahluk penentu keindahan alam dan pemikat bumi. Para petani pun telah mengetahui secara turun-temurun, bahwa cacing tanah dapat meningkatkan kesuburan tanah pertanian. Di Indonesia, manfaat cacing tanah masih sangat terbatas, yaitu sebagai pakan ternak atau ikan. Akan tetapi, di negara-negara lain cacing tanah juga bermanfaat sebagai bahan obat, bahan kosmetik, pengurai sampah dan sebagai makanan manusia.
Lahan pertanian yang mengandung cacing tanah pada umumnya akan lebih subur karena tanah yang bercampur dengan kotoran cacing tanah sudah siap untuk diserap oleh akar tanaman. Cacing tanah yang ada di dalam tanah akan mencampurkan bahan organik pasir ataupun bahan antara lapisan atas dan bawah. Aktivitas ini juga menyebabkan bahan organik akan tercampur lebih merata.
Kotoran cacing tanah juga kaya akan unsur hara. Ahli-ahli pertanian di luar negeri dari tahun ke tahun tertarik oleh gerak-gerak cacing tanah. Mereka menyatakan bahwa kadar kimiawi kotoran cacing dan tanah aslinya banyak perbedaannya.

Top Categories